GfdlTpWoGUW5TUr7GfM9GfdlGA==

Opini: Selayan Pandang Dalam Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia


Sembilan Desember menjadi tanggal peringatan Hari Antikorupsi Sedunia. Peringatan ini dimulai setelah konvensi PBB melawan korupsi pada 31 Oktober 2003 untuk meningkatkan kesadaran anti korupsi. Tahun ini, peringatan Hakordia 2020 mengambil tema “Membangun Kesadaran Seluruh Elemen Bangsa dalam Budaya Antikorupsi”. Tetapi perayaan Harkodia tahun ini tampaknya menjadi sesuatu yang sangat ironi bagi negeri ini.



Sebab dua pekan terakhir ini sudah 2 menteri dari kabinet Jokowi-Maaruf menjadi tersangka kasus korupsi dimasing-masing kementerian tempat mereka mengabdi melayani rakyat sebagaimana janji mereka sewaktu disumpah oleh

Presiden Joko Widodo.

Pihak-pihak yang tertangkap ini bisa dikatakan sebagai kelas kakap. Gebrakan operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK setelah lama “libur” dengan menangkap menteri kelautan dan perikanan Edy Prabowo melalui OTT dibandara soetta beberapa waktu yang lalu. tindak pidana korupsi dugaan izin ekspor lobster. Dan selanjutnya pengungkapan kasus korupsi dana bansos covid-19 oleh Menteri Sosial Juliari P Batubara. Jelas adalah sebuah tamparan menyakitkan untuk pemerintahan Presiden Jokowi.


Hal ini semakin menggambarkan bahwa korupsi adalah penyakit kronis yang harus segera disembuhkan dan dihilangkan dari praktek penyelenggaraan pemerintahan kita. Sebenarnya, sistem dan tata kelola pemerintahan saat ini sudah sangat bagus secara konseptual. Tapi mengapa korupsi juga belum hilang? Malah sudah seperti menjadi budaya dalam kehidupan bernegara kita. Tidak lain Penyebab dari semua ini adalah sistem, perilaku korup dan hukuman atau sanksi kepada para pelaku koruptor yang masih sangat sangat lemah. Sehingga tidak ada efek jera bagi para pelaku korupsi.


Dan saat ini upaya pemberantasan korupsi sepertinya masih harus berhadapan dengan suasana batin yang bercabang, antara keinginan untuk cepat menangani dan kepentingan jangka pendek dari para pemegang kebijakan publik itu sendiri. Dinamika semacam ini tentunya mengganggu keberlanjutan dan kesinambungan agenda pemberantasan korupsi. Sebaliknya, program-program antikorupsi yang dicanangkan oleh pemerintah maupun lembaga negara lain yang memiliki wewenang untuk menyusunnya, kerap kali harus mundur selangkah dan hanya maju setengah langkah. 


Kejahatan korupsi merupakan kejahatan yang menggunakan kecerdasan akal. Ini menunjukan bahwa pelakunya adalah orang orang yang licik dan culas serta memiliki keberanian mental diatas rata-rata. Korupsi bukan budaya negara Indonesia dan tak seharusnya dilestarikan apalagi di pelihara. Jangan biarkan diri kita menjadi bagian dari tradisi jahat dan tak bermoral yaitu korupsi. 


Perlawanan terhadap korupsi memang perlu dibarengi dengan menumbuhkan kesadaran bersama bahwa korupsi itu tak hanya merugikan tetapi juga bisa mematikan rakyat. Bagi rakyat, korupsi menutup peluang mereka untuk tumbuh dalam kesejahteraan. Bagi pelaku korupsi, ketika kejahatannya terungkap jelas mereka dan keluarganya akan dipermalukan di masyarakat. Tidak ada keluarga koruptor yang berani dengan kepala tegak tampil di masyarakat. Meski masyarakat tersenyum menyambutnya, dalam benak masyarakat tetap menilai mereka sebagai keluarga koruptor.


Selayang Pandang  Oleh Andi Akbar Napoleon

Ketua Umum OKP Laskar Arung Palakka