Makassar, Senin (23/02/2026) — Angin Ramadhan berembus pelan di pelataran Masjid Baburroyyan, Griya Antang Harapan. Lampu-lampu masjid menyala lembut, memantulkan cahaya pada wajah-wajah yang datang dengan harap dan rindu. Mereka bukan sekadar ingin mendengar tausiyah, tetapi ingin merasakan denyut yang sama—denyut ukhuwah yang melintasi batas negara.
Di antara saf yang rapat dan doa yang menggantung di udara, hadir seorang tamu dari tanah yang tak pernah sepi dari ujian: Palestina.
Tausiyah Penuh Haru Syekh Faris Esyam Ali Al Yasra melangkah perlahan ke mimbar. Sorot matanya teduh, namun menyimpan jejak duka bangsanya. Suasana seketika hening. Bahkan anak-anak yang tadi berlarian di serambi masjid ikut terdiam, seolah tahu malam itu bukan malam biasa.
Ramadhan 1447 Hijriah terasa berbeda.
Dengan suara bergetar namun mantap, Syekh Faris memulai tausiyahnya. Ia tidak hanya berbicara tentang puasa dan pahala. Ia berbicara tentang makna menjadi saudara.
“Ramadhan adalah bulan persaudaraan dan kepedulian.
Apa yang kita berikan hari ini, sekecil apa pun,
sangat berarti bagi saudara-saudara kita di Palestina.”
Kalimat itu jatuh pelan, tetapi menghunjam dalam.
Ia menceritakan kondisi masyarakat Palestina—tentang anak-anak yang belajar di tengah keterbatasan, tentang keluarga yang bertahan dengan harapan, dan tentang doa-doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan dari tanah yang diuji. Tidak ada nada amarah dalam ceritanya. Yang ada hanya ajakan untuk tetap menjadi umat yang saling menguatkan.
“Jika kita tidak mampu berada di sana,” ujarnya lirih,
“maka hadirkan hati kita di sana.”
Beberapa jamaah terlihat menyeka air mata. Di barisan depan, seorang ibu menggenggam tas kecilnya erat-erat, seakan sedang menghitung bukan hanya rupiah, tetapi keikhlasan.
Infak yang Mengalir, Empati yang Menyala
Usai tausiyah, panitia membuka penggalangan dana kemanusiaan. Kotak-kotak donasi diedarkan dari saf ke saf. Tidak ada paksaan. Tidak ada seruan berlebihan. Hanya kesadaran yang tumbuh dari hati yang disentuh.
Uang kertas terlipat rapi. Koin berdering pelan. Beberapa jamaah bahkan maju langsung ke depan, menyerahkan bantuan dengan mata berkaca-kaca.
Ketua Panitia Ramadhan menyampaikan harapannya:
“Kehadiran Syekh Faris bukan sekadar tausiyah,
tetapi pengingat bahwa iman harus melahirkan kepedulian.
Semoga setiap rupiah yang terkumpul menjadi saksi
bahwa kita pernah berdiri bersama Palestina.”
Safari dakwah ini menjadi bagian dari rangkaian Semarak Ramadhan yang digagas Remaja dan Pengurus Masjid Baburroyyan Griya Antang Harapan. Namun malam itu, kegiatan terasa melampaui agenda tahunan. Ia berubah menjadi peristiwa batin.
Doa yang Menembus Batas Negara
Menjelang akhir acara, seluruh jamaah berdiri. Tangan-tangan terangkat. Suara “Aamiin” menggema, membelah langit Makassar yang mulai larut.
Doa dipanjatkan untuk keselamatan dan kedamaian rakyat Palestina. Untuk anak-anak yang ingin belajar tanpa takut. Untuk ibu-ibu yang ingin memasak tanpa cemas. Untuk ayah-ayah yang ingin pulang tanpa bayang-bayang sirene.
Tidak ada yang tergesa pulang.
Malam itu, Masjid Baburroyyan Griya Antang Harapan tidak hanya menjadi tempat ibadah. Ia menjadi simpul persaudaraan lintas negara. Di bawah kubahnya, warga belajar bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang merasakan lapar yang sama—meski berada ribuan kilometer jauhnya.
Dan ketika jamaah satu per satu melangkah keluar masjid, mereka membawa sesuatu yang lebih dari sekadar tausiyah: mereka membawa tekad untuk menjadi bagian dari solusi.
Ramadhan telah mempertemukan Makassar dan Palestina—dalam doa, dalam cinta, dalam kepedulian.
Jika Anda ingin, saya bisa ubah tulisan ini menjadi versi berita lebih lugas (straight news), versi feature yang lebih tajam emosinya, atau format rilis media siap kirim ke redaksi.



